KPK Tetapkan 8 Tersangka Kasus Suap HGB Bogor, Ada Fahd A Rafiq dan Bos Summarecon

Kanama
Selasa, 15 September 2026 19:57:22

KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penetapan tersangka ini merupakan hasil pengembangan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK pada Senin (14/09/2026).

Kasus tersebut turut menyeret nama Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq serta Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto Pitojo Adhi.

Plt Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik mengatakan penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik memperoleh bukti yang dinilai cukup untuk meningkatkan perkara ke tahap penyidikan.

Baca: KPK Geledah Kantor PT Djarum dan Bea Cukai Kudus, Usut Penyidikan Baru

"Setelah ditemukan kecukupan alat bukti pada tahap penyidikan, KPK kemudian menetapkan delapan orang sebagai tersangka," kata Achmad Taufik dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa (15/09/2026).

Delapan tersangka tersebut terdiri dari pejabat Kementerian ATR/BPN dan pihak swasta.

Baca: Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB Tuai Kecaman DPR, KPK Diminta Usut Tuntas

Mereka yakni Lampri selaku Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Kementerian ATR/BPN, Sontang Coin Manurung selaku Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor, Rizal Pahlevi dari pihak swasta, Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq dari pihak swasta, Arif Sugiyanto dari pihak swasta, Adrianto Pitojo Adhi selaku Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Erwin dari pihak swasta, serta Muhammad Fakhry dari pihak swasta.

Fahd A Rafiq Disebut Orang Kepercayaan Nusron

Dalam perkara ini, KPK juga mengungkap keterkaitan sejumlah tersangka dengan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Baca: Kasus Chromebook, Hukuman Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun Penjara

KPK menyebut Fahd A Rafiq bersama Arif Sugiyanto, Erwin, dan Muhammad Fakhry sebagai pihak yang disebut memiliki hubungan kepercayaan dengan Menteri ATR/BPN tersebut.

"Saudara FEZ selaku pihak swasta juga yang diduga juga orang kepercayaan Menteri ATR/BPN," ujar Taufik.

Baca: DPO Dua Tahun Ditangkap, Polda Riau Bongkar Dugaan Pemodal Kayu Ilegal di Kampar

Kasus dugaan suap ini berkaitan dengan pengurusan perpanjangan dan pemecahan HGB yang dikelola PT Summarecon Agung di Kabupaten Bogor.

Perkara tersebut mencuat setelah sebagian bidang tanah yang terkait dengan HGB Summarecon bersengketa dengan sejumlah ahli waris. Sengketa itu kemudian berlanjut ke Pengadilan Negeri Bandung.

Para ahli waris juga mengajukan pemblokiran terhadap sejumlah Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) yang diterbitkan untuk Summarecon.

Baca: Direktur Travelina Indonesia Ditangkap, Polisi Usut Dugaan Penelantaran 64 Jemaah Umrah

Dalam proses berikutnya, pihak Summarecon disebut menghubungi Erwin untuk membantu pengurusan pembukaan blokir dan pemecahan HGB.

KPK Ungkap Dugaan Fee Rp2 Miliar

Baca: Kasus Jembatan Air Hitam Rohil Memanas, Polda Riau Periksa 39 Saksi dan Sita 104 Dokumen Penting

Dari proses komunikasi tersebut, muncul dugaan permintaan fee senilai Rp2 miliar. Namun, pihak Summarecon disebut hanya menyanggupi pembayaran sebesar Rp1,5 miliar.

"Bahwa kemudian, YA dan dan LEV selaku pihak swasta/perantara pihak Summarecon, mendekati ERW yang merupakan orang kepercayaan atau representasi dari Menteri ATR/BPN, agar dibantu berkomunikasi dengan SON untuk pembukaan blokir dan pemecahan HGB tersebut," jelas Taufik.

KPK menyebut permintaan tersebut berkaitan dengan proses pembukaan blokir dan penerbitan sertifikat tanah milik Summarecon.

Baca: Puluhan Karyawan Gugat PT Bina Karya, Perusahaan Pengembang IKN Terancam Sengketa Hubungan Kerja

"Bahwa pada awal Agustus 2026, dari komunikasi antara YA dan LEV, diperoleh informasi bahwa untuk pembukaan blokir dan atau penerbitan sertifikat tanah Summarecon, SON melalui ERW meminta fee dengan kode 'dua' yang diduga sejumlah Rp 2 miliar.

Dalam perkembangan penyidikan, KPK menduga pembayaran Rp1,5 miliar tersebut kemudian diserahkan kepada Erwin.

Baca: KKP Pastikan Investasi di KITB Tetap Berjalan, Penyegelan PT MNS dan TFDI Sementara

"Bahwa kemudian, pada 27 Agustus 2026, ADR selaku Direktur Utama (Dirut) Summarecon melalui YA dan LEV diduga menyerahkan uang sebesar Rp 1,5 miliar kepada ERW. Selanjutnya, ERW menyerahkan sebagian dari uang tersebut yaitu senilai Rp 200 juta kepada SON di sebuah kafe di Jakarta Selatan, untuk fee pembukaan blokir dan pemecahan HGB atas pihak Summarecon," pungkas Taufik.

KPK kemudian melakukan OTT dan membawa sejumlah pihak untuk menjalani pemeriksaan. Setelah proses gelar perkara dan pemeriksaan, delapan orang akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap pengurusan HGB tersebut. (SM)



Terkait
Tim Gabungan Razia Angkutan Barang Besar-Besaran di Pekanbaru: Targetkan ODOL dan Surat Kendaraan
Tim Gabungan Razia Angkutan Barang Besar-Besaran di Pekanbaru: Targetkan ODOL dan Surat Kendaraan
PETI Ilegal Makin Marak, Ratusan Hektar Sawah Terancam
Galian C Ilegal Kembali Digerebek Polda Riau, Kali ini
Awal Tahun 2026, Kalapas Bagansiapiapi Tegaskan Warga B
Lainnya
Tampil Dominan, PSPS Tekuk Persekat Tegal Dua Gol Tanpa Balas
Tampil Dominan, PSPS Tekuk Persekat Tegal Dua Gol Tanpa Balas
UPTD BLK Distransnaker Siak Gelar Pelatihan Kerja Berba
Kecamatan Pekanbaru Kota Terima Kunjungan Kerja Kecamat
Pelajar Al Jamiyatul Washliyah Minta Kepala Sekolah Dip
Ottech
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Google Resmi Ubah Strategi Update Android, Ini Informas
Disney Tuntut Google Dugaan Pencurian Hak Cipta AI, Ini
Politik
KPU Buka Suara soal Putusan MA Terkait Suket SMA Gibran, Singgung Tahapan Pemilu 2024
KPU Buka Suara soal Putusan MA Terkait Suket SMA Gibran, Singgung Tahapan Pemilu 2024
Desakan Indonesia Keluar dari BoP Dinilai Perlu Dicerma
Bawaslu Ingatkan Larangan Libatkan Anak dalam Kampanye
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Pendidikan
Adam Syafaat: Perempuan Jadi Kunci Gerakan Pelestarian Lingkungan di Riau
Adam Syafaat: Perempuan Jadi Kunci Gerakan Pelestarian Lingkungan di Riau
Karmila Sari Dorong Guru, Dosen dan Mahasiswa Perkuat B
STIE Bangkinang Gelar Gladi Bersih Jelang Dies Natalis
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik