Sebelum Jual Konten Asusila, Dua Pria di Bogor Ternyata Sempat Menganggur

Kanama
Selasa, 22 September 2026 10:09:47

KANALSUMATERA.com - BOGOR – Polisi mengungkap aktivitas dua pria berinisial MR (27) dan MA (24) yang kini menjadi tersangka dalam kasus produksi dan penjualan konten asusila bertajuk A Day in My Life.

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Anggi Eko Prasetyo mengatakan, kedua tersangka sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan swasta. Namun, beberapa bulan sebelum ditangkap, keduanya diketahui sudah tidak memiliki pekerjaan.

"Kalau untuk beberapa bulan ini mereka nganggur. Namun sebelumnya mereka pernah bekerja sebagai karyawan swasta," kata Anggi kepada wartawan, Senin (21/09/2026).

Baca: Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB Tuai Kecaman DPR, KPK Diminta Usut Tuntas

Menurut polisi, MR dan MA mulai saling mengenal melalui media sosial. Keduanya kemudian bertemu dan mulai membuat konten asusila sejak Juli 2026.

"Kalau mereka baru kenal di 2 bulan itu. Sejak awal mereka membuat itu di bulan Juli, itulah awal perkenalan mereka yang berdasarkan keterangan yang berhasil diperoleh itu mereka mengenal satu sama lain di social media," ujarnya.

Baca: Pejabat Bea Cukai Akui Terima Rp1 Miliar per Bulan dari Blueray, Jaksa Soroti Pengakuan Dendam

Setelah berkenalan, keduanya kemudian membuat rekaman yang selanjutnya ditawarkan melalui media sosial dengan sistem akses berbayar.

"Kemudian janjian, ketemu, sampai pada akhirnya melakukan perbuatan kesusilaan yang menyimpang tersebut," lanjutnya.

Konten Dijual dengan Sistem Akses Berbayar

Baca: KPK Geledah Kementerian ATR/BPN, Bidik Bukti Kasus Suap HGB Summarecon

Polisi menyebut konten tersebut dipasarkan melalui grup atau komunitas tertentu di media sosial. Calon anggota harus membayar biaya untuk memperoleh akses terhadap konten yang ditawarkan.

"Disebar ke platform social media, dikomersilkan kurang lebihnya untuk memasuki daripada komunitas atau grup untuk penjualan video tersebut itu Rp 150 ribu," ungkap Anggi.

Baca: Karhutla Riau Kian Mengkhawatirkan, Roni Agustian Minta Tegakkan Hukum Tanpa Pandang Bulu

Menurut penyidik, biaya tersebut dikenakan untuk setiap akses. Setelah pembayaran dilakukan, pembeli memperoleh kode yang digunakan untuk masuk ke konten eksklusif.

"(Bayar Rp 150 ribu) per akses. Jadi mereka itu kan konsepnya adalah membuat di salah satu platform social media yang sifatnya eksklusif, hanya dapat diakses ketika dia (pembeli) mentransfer atau membayar biaya aksesnya," kata Anggi.

"Biaya aksesnya itulah yang sejumlah senilai Rp 150 ribu. Tapi, setelah diakses, kemudian diberikan kode aksesnya, baru mereka bisa mengakses," imbuhnya.

Baca: Kasus Rektor Unsoed Jadi Sorotan, Komisi X DPR Dorong Evaluasi Sistem Penerimaan Maba

Dari aktivitas tersebut, polisi menyebut kedua tersangka telah memperoleh uang hingga belasan juta rupiah.

Penyelidikan bermula setelah rekaman yang dibuat keduanya beredar di media sosial. Polisi kemudian mengidentifikasi dan menangkap kedua tersangka.

Baca: KPK Ungkap Uang Gratifikasi Rektor Unsoed Dipakai Beli Tiga Bidang Tanah

Selain di wilayah Leuwiliang, Kabupaten Bogor, polisi juga menemukan adanya rekaman lain yang dibuat di sejumlah lokasi, termasuk Jakarta dan Depok. Polisi menyebut total terdapat sekitar 20 video yang diproduksi sejak Juli 2026.

Kedua tersangka kini menjalani proses hukum setelah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh polisi. Kasus tersebut masih dalam penanganan Polres Bogor. (SM)



Terkait
DPO Dua Tahun Ditangkap, Polda Riau Bongkar Dugaan Pemodal Kayu Ilegal di Kampar
DPO Dua Tahun Ditangkap, Polda Riau Bongkar Dugaan Pemodal Kayu Ilegal di Kampar
Tiga Pelaku Pembalakan Liar di Suaka Margasatwa Kerumut
Kasus Jembatan Air Hitam Rohil Memanas, Polda Riau Peri
PETI Ilegal Makin Marak, Ratusan Hektar Sawah Terancam
Lainnya
Bapenda Pekanbaru Bakal Evaluasi Pajak Sarang Burung Walet
Bapenda Pekanbaru Bakal Evaluasi Pajak Sarang Burung Walet
Propam Polres Kampar Lakukan Optimalisasi Pendisiplinan
Kabar Gembira.. 197.111 Formasi CPNS 2019 Dibuka Oktobe
Kebakaran Hebat Terjadi di Siantar, Korban Keluar dari
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Pendidikan
Bupati Ahmad Yuzar Dorong Wisudawan STIE Bangkinang Kuasai Teknologi dan Ciptakan Lapangan Kerja
Bupati Ahmad Yuzar Dorong Wisudawan STIE Bangkinang Kuasai Teknologi dan Ciptakan Lapangan Kerja
Gelar Karya PPG Universitas Pahlawan 2026 Tampilkan Ino
Politeknik Mulia Rokan Resmi Hadir, Karmila Sari Dorong
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Nasional
Pramono Anung Tegaskan Jakarta Tidak Siaga 1, Pengerahan Prajurit TNI Jadi Sorotan
Pramono Anung Tegaskan Jakarta Tidak Siaga 1, Pengerahan Prajurit TNI Jadi Sorotan
Mike Johnson Mundur dari Pimpinan Partai Republik Usai
Jokowi Bersaksi di Sidang Roy Suryo, 6.770 Personel TNI
Kriminal
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Keluarga Korban Desak Pelaku Dihukum Mati
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Keluarga Korban Desak Pelaku Dihukum Mati
Kapolri Bongkar Penyelundupan 1 Ton Ketamin di Belawan,
Bharada Andika Jadi Tersangka Kasus Polisi Tembak Polis