TKN Bela Jokowi Terkait Remisi Pembunuh Wartawan

Alwira Fanzary
Jumat, 25 Januari 2019 17:51:46
Eva Kusuma SundariĀ 

KANALSUMATERA.com - Juru Kampanye Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Eva Kusuma Sundari membela keputusan Presiden Jokowi soal pemberian remisi kepada I Nyoman Susrama. Seperti diketahui, Susrama dalam putusan pengadilan ditetapkan sebagai otak pembunuhan wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Eva justru menilai remisi yang diberikan Jokowi kepada Susrama sudah sesuai berdasarkan peraturan atau mekanisme yang berlaku.

"Ya kan semua napi mempunya hak yang sama setelah dia menjalani masa hukuman, ini semata pertimbangan teknis karena telah memenuhi syarat. Ini berlaku juga untuk kasus yang di Bali itu," kata Eva saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (25/1).

Lebih lanjut, Eva merujuk pada penjelasan yang termaktub dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 21 Tahun 2016 soal pemberian remisi. Ia menyatakan tiap narapidana berhak untuk mendapatkan remisi bila memenuhi syarat yaitu berkelakuan baik dan telah menjalani masa pidana lebih dari 6 bulan.

Baca: KPK Geledah Kantor PT Djarum dan Bea Cukai Kudus, Usut Penyidikan Baru

"Jadi menurutku, ya setiap orang yang melakoni hukuman dan menujukkan perubahan ke arah yang lebih baik, wajar dapat remisi," kata dia.

Politikus PDI Perjuangan itu bahkan mempertanyakan langkah beberapa elemen masyarakat yang menolak langkah Jokowi memberikan remisi kepada Susrama. Menurut dia, langkah itu justru mendiskriminasi para narapidana yang haknya telah diatur dalam peraturan.

Selain itu, Eva turut meyakini bahwa Jokowi telah mempertimbangkannya secara matang sesuai mekanisme yang berlaku. "Kenapa teman-teman meminta pokoknya yang bunuh wartawan ga boleh dapet remisi? Itu kan logikanya keliru, jadi diskriminatif, beliau kan sudah menjalani masa hukuman," kata dia

Sebelumnya, Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly buka suara terkait pemberian remisi perubahan kepada I Nyoman Susrama. Yassona juga menyebut kasus pembunuhan wartawan bukan kejahatan luar biasa (extraordinary crime)

Baca: Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB Tuai Kecaman DPR, KPK Diminta Usut Tuntas

"Pertimbangannya, dia hampir sepuluh tahun, sekarang sudah sepuluh tahun di penjara," kata Yasonna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1).

Yasonna mengatakan pemberian remisi perubahan kepada Susrama sudah melawati pertimbangan mulai dari Lembaga Pemasyarakatan, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, hingga terakhir dirinya.

Menurut Yasonna, Susrama juga selama melaksanakan masa hukuman mengikuti pembinaan dengan baik, tidak pernah melakukan kesalahan, dan berkelakuan baik.

Diketahui, Susrama merupakan aktor intelektual yang mendalangi pembunuhan berencana terhadap Prabangsa. Ia awalnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan berubah menjadi 20 tahun bila menerima remisi.

Baca: Komisi II DPR Panggil Ombudsman, Temuan Lapas Cibinong Jadi Sorotan

Kasus ini bermula ketika Prabangsa menulis berita terkait dugaan korupsi sejumlah proyek Dinas Pendidikan di Kabupaten Bangli, Bali, sejak awal Desember 2008 hingga Januari 2009.

Salah satunya, berita terkait proyek pembangunan TK dan SD bertaraf Internasional di Bangli. Susrama adalah pemimpin proyek tersebut. Susrama lantas marah dan merancang pembunuhan terhadap Prabangsa pada Februari 2009. Kso



Terkait
Pejabat Bea Cukai Akui Terima Rp1 Miliar per Bulan dari Blueray, Jaksa Soroti Pengakuan Dendam
Pejabat Bea Cukai Akui Terima Rp1 Miliar per Bulan dari Blueray, Jaksa Soroti Pengakuan Dendam
Diduga Buang Puntung Rokok, Pria di Inhu Diamankan usai
Jaksa KPK Tuntut Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara dan Uang
Akibat Terkena Puntung Rokok saat Berkendara, Mahasiswa
Lainnya
Kader dan Simpatisan PPP Diminta Jadikan Muktamar IX Momentum Untuk Bangkit
Kader dan Simpatisan PPP Diminta Jadikan Muktamar IX Momentum Untuk Bangkit
Status Kabupaten Gusdar Tak Jelas, Gafar Usman: Bentuk
Warga Padang Keluhkan Rencana Kenaikan Iuran BPJS
Waspada, Polri Gandeng Mahasiswa Tangkal Hoaks Jelang P
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Nasional
Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
MUI Desak Polri Klarifikasi Penggerebekan Ponpes Hamala
Legislator PKS Johan Rosihan Dukung Polri Tetapkan 20 K
Hukum
Pesantren Kampar Desak Propam Periksa Dugaan Intimidasi Santriwati di Sukoharjo
Pesantren Kampar Desak Propam Periksa Dugaan Intimidasi Santriwati di Sukoharjo
Dedi Congor Jadi Tersangka KPK dan Polri, Ini Kasusnya
Empat Polisi di Batam Diamankan Terkait Etomidate, Kapo
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan