Orangtua Taruna ATKP Sinyalir Keterlibatan Pihak Kampus di Kasus Tewasnya Aldama
KANALSUMATERA.com - Puluhan orangtua rekan Aldama Putra, berdatangan ke rumah Dinas, Pelda Daniel Pongkala, di jalan Leo Wattimena, Komplek AURI, Kecamatan Mandai, Maros, Minggu (10/2/2019).
Aldama merupakan taruna Akademi Teknik Keselamatan dan Penerbangan (ATKP) Makassar, yang meninggal dianiaya oleh seniornya.
Para orangtua taruna, seperti yang diberitakan TribuneMaros.com, datang untuk berbela sungkawa atas meninggalnya Aldama. Orangtua taruna disambut oleh ayah Aldama, Pelda Daniel.
Selain itu, orangtua juga curhat kepada Daniel atas kekerasan yang kerap dialami anaknya. Bahkan diduga melibatkan pihak dari kampus tersebut.
Baca: Kanwil DJP Jabar I Bekukan 275 Rekening Penunggak Pajak: Nilai Tunggakan Capai Rp 224,6 M
Setelah mendengar curhatan orangtua taruna, Pelda Daniel Pongkala membeberkan dugaan keterlibatan pihak kampus jika terjadi penganiayaan.
"Menurut informasi orangtua, taruna dan yang ada di kampus itu, sebagian besar sudah pernah dihukum oleh senior. Hukaman tidak manusiawi," katanya.
Jika tidak dianiaya, taruna dipakasa meminum air yang telah dimuntahkan dari mulut taruna lainnya. Begitu juga dengan makanan. Taruna juga kadang dipaksa makan sabun.
Para pelaku di ATKP melakukan aksinya tanpa pandang bulu. Taruni juga dianiaya hingga memar pada kaki hingga paha.
Baca: Akibat Terkena Puntung Rokok saat Berkendara, Mahasiswa Hukum UMY Gugat UU LLAJ ke MK
"Orangtua yang datang juga membenarkan, jika di kampus itu sering terjadi penganiyaan. Semua taruna yang dianiaya diancam jika melapor," katanya.
Setiap tindakan kekerasan yang terjadi di ATKP ditutupi oleh oknum pembina ATKP Makassar. Jika ada taruna yang memar, maka akan digiring ke alasan jatuh.
"Contoh pada kasus Aldama. Alasannya sangat tidak logis. Kenapa dibilang jatuh di toilet. Alasan lain, bukan jatuh di kamar mandi, tapi dari tangga," kata Daniel.
Daniel meminta kepada ATKP supaya mengentikan kekerasan yang kerap terjadi. Jika tidak, maka oknum ATKP masih akan membunuh.
Baca: Masyarakat Adat Rantau Kasai Tidak Terima Disebut Penjarah Lahan: Akan Lapor ke Polisi
"Cukuplah anak saya yang terakhir. Jangan sampai ada lagi generasi berikutnya mengalami kasus seperti Aldama," katanya. Kso
